Skip to main content
Foto: Robertus Risky/Project Arek
Reportase
Halte Kampus B Akhire Dibangun, Rek!
Setelah sekian lama, pemberhentian bus di kawasan Universitas Airlangga (Unair) B dibangun halte. Sebelumnya, masyarakat pengguna transportasi umum atau transum, harus berdiri lama menanti transum yang tak kunjung datang. Sebagian dari mereka bahkan duduk di tembok pagar yang jauh dari kata nyaman, apalagi aman. Di sisi lain, masih banyak pemberhentian transum tanpa fasilitas memadai, bahkan tak manusiawi.

RANGKA-RANGKA besi berkelir abu-abu mengilap itu tertanam di badan trotoar, hanya selemparan batu dari Kampus B Universitas Airlangga (Unair), Jalan Dharmawangsa, Surabaya. Rangka besi tersebut menjadi fondasi halte permanen yang telah lama dinantikan masyarakat pengguna transum di Surabaya. Proses pembangunan halte Unair B dimulai pada akhir September lalu. 

Sebelum halte permanen dibangun, pengguna transum harus berdiri atau duduk di pagar tembok. Bahkan saking lamanya mendapatkan layanan dasar dari Pemkot Surabaya ini, pengguna transum yang tergabung dalam Forum Diskusi Transportasi Surabaya (FDTS) membuat sendiri halte dadakan pada 1 Juli 2026. Halte ini dilengkapi kursi kayu, informasi rute dan peneduh. Halte dadakan itu dibuat secara gotong royong. Halte diwarnai merah muda, karena itu masyarakat menyebutnya halte pink. 

Bagi sebagian masyarakat halte ini buka sekadar membantu pengguna transum, melainkan juga sindiran bagi Pemkot Surabaya yang tak juga menyediakan tempat yang aman dan layak bagi pengguna ketika menunggu transum. Arkan (18), mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unair, adalah salah satu pengguna transum yang menyambut baik pembangunan halte permanen tersebut. Menurut dia, halte baru itu akan membantu mahasiswa yang membutuhkan tempat duduk sekaligus tempat berteduh saat menunggu bus.

Sejumlah pengguna transum menunggu bus mereka di titik pemberhentian Kampus B Unair. Pemkot Surabaya akhirnya membangun halte permanen setelah sekian lama diprotes pengguna transum karena dianggap mengabaikan kenyamanan dan keselamatan warganya. (Robertus Risky/Project Arek)

 

Dia mengatakan, Tempat Pemberhentian Bus (TPB) Unair B selama ini menjadi salah satu titik dengan penumpukan penumpang cukup padat. Namun, tingginya jumlah penumpang tidak diimbangi fasilitas tempat duduk dan tempat berteduh yang memadai. Kondisi tersebut membuat penumpang harus mencari tempat berlindung sendiri sembari menunggu bus. Arkan bahkan mengaku kerap berlindung di belakang trafo gardu listrik yang berada di depan Airlangga Wellness Center (AWC) untuk menghindari terik matahari.

Sebelum ada halte ini, saya menunggu di sini, selalu berlindung di belakang trafo gardu listrik (agar tidak panas tersorot sinar matahari),” ujar Arkan, pada Senin, 28 September 2026.

Pengalaman tersebut dirasakan Arkan karena setiap hari menggunakan bus dari Unair B menuju Jemursari, tempat tinggalnya. Menurut dia, waktu tunggu bus di halte tersebut bervariasi, mulai dari datang langsung hingga sekitar 5-15 menit. Karena itu, keberadaan tempat duduk dan atap peneduh menjadi penting bagi penumpang yang harus menunggu.

BACA JUGA : Halte Unair B: Akhire Diurus Arek-arek Dewe!

Selain fasilitas dasar, Arkan berharap halte baru tersebut dilengkapi papan informasi rute agar penumpang mengetahui jalur bus R2 dan R4. Saat ini, Suroboyo Bus melayani empat rute utama, yakni R1 Terminal Purabaya-Tanjung Perak, R2 Kejawan Putih Tambak-Unesa, R4 Terminal Purabaya-PENS, dan R5 Terminal Benowo-Tunjungan. Rute R1 dan R5, beroperasi antara 05.30 sampai 21.00 WIB. Lalu R2 pukul 05.30 sampai 22.00 WIB dan R4 antara pukul 05.00 sampai 21.00 WIB. 

Arkan berharap juga, aspek inklusivitas perlu diperhatikan pada seluruh rute, terutama melalui penyediaan fasilitas yang membantu penyandang disabilitas netra bernavigasi.

Menurut saya sangat perlu, karena teman-teman disabilitas netra membutuhkan bantuan navigasi. Di kebanyakan halte belum ada huruf Braille, padahal mereka menggunakannya untuk navigasi ke halte masing-masing,” kata Arkan.

Kebutuhan pembangunan halte di Unair B juga disampaikan Neira (20), mahasiswi Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi Unair. Dia mengatakan banyak warganet menyambut pembangunan halte tersebut setelah sekian lama menantikannya. Neira sempat mengunggah foto kerangka halte baru Unair B yang mulai dibangun itu ke media sosial X.

Pengguna transum memasuki Suroboyo Bus. Waktu tunggu bus yang masih relatif lama, seharusnya dibayar dengan insentif penyediaan halte dan pemberhentian bus yang dilengkapi kursi tunggu, peneduh dan rute perjalanan yang memadai. Pengguna transum mengeluh mereka harus bertahan menunggu transum di saat panas, maupun hujan. (Robertus Risky/Project Arek) 

“Semoga ini bisa memenuhi ekspektasi. Saya sempat mengunggah foto rangka halte ini, dan banyak respons dari mahasiswa maupun masyarakat yang melihatnya merasa senang. Ada yang bilang, ‘Akhirnya setelah sekian lama ada halte,’ atau ‘Saya sudah wisuda, tetapi haltenya baru ada sekarang.’ Semoga halte baru ini dapat memenuhi harapan pengguna bus di Unair,” ujar Neira, pada Senin, 28 September 2026.

Menurut Neira, antusiasme tersebut tidak terlepas dari kebutuhan pengguna terhadap halte Unair B yang selama ini belum memadai. Dia menyebut setidaknya ada tiga fasilitas dasar yang diharapkan tersedia di halte Unair B, yakni peneduh, atap, dan bangku untuk menunggu bus.

Sebab yang menunggu di sini tidak cuma mahasiswa Unair, tetapi ada ibu-ibu dan bapak-bapak yang sudah sepuh. Kalau biasanya penuh dan tidak bisa duduk, jadinya berdiri,” kata Neira, yang akan mengambil rute bus ke Prapen.

Harapan serupa disampaikan Akbar (19), mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unair. Sebagai pengguna Suroboyo Bus, Akbar menilai keberadaan halte Unair B memberikan kepastian tempat menunggu yang lebih aman dan layak. Sebelumnya, penumpang hanya mengandalkan halte pink buatan FDTS.

Apalagi saya hampir setiap hari menggunakan Suroboyo Bus untuk beraktivitas. Tentu saya sangat bersyukur akhirnya ada halte resmi, bukan sekadar tempat pemberhentian buatan komunitas,” katanya.

Meski menyambut pembangunan halte permanen tersebut, Akbar menilai fasilitas yang disediakan tidak perlu muluk-muluk dahulu. Menurut dia, atap dan tempat berteduh yang memadai sudah cukup untuk melindungi penumpang dari terik matahari maupun hujan.

Akan Ada Halte Pink di Tempat Lainnya

Pembangunan halte permanen di Unair B tak lepas dari aksi anggota FDTS yang sebelumnya membuat halte pink karena minimnya fasilitas bagi pengguna transum. Anggota FDTS Vesa Hansa Khrisna (28) menilai, keterlambatan dan lamanya realisasi pembangunan halte ini menunjukkan lemahnya political will pemangku kebijakan.

BACA JUGA : Keluh Kesah Mereka tentang Bus Suroboyo

Menurut dia, kondisi tersebut terlihat dari masih adanya tempat pemberhentian bus (TPB) yang belum dilengkapi fasilitas memadai, meski kebutuhan penumpang terhadap halte terus meningkat. Situasi itu kemudian mendorong FDTS mengambil inisiatif membuat halte pink di Unair B setelah jengah menunggu janji pemerintah.

Pemandangan ironis. Dua pengguna layanan Suroboyo Bus duduk di bangku halte dadakan yang dibuat FDTS, sedangkan banyak pengguna lainnya duduk di pagar semen dan tanpa peneduh. (Kristian Oka Prasetyadi/Project Arek)

 

Pada awal Mei 2026, Wali Kota Surabaya sempat menyatakan akan membangun halte di Unair B dalam waktu dekat, menyusul tingginya permintaan penumpang. Namun, hingga awal Juli 2026, belum ada pergerakan maupun pembangunan dari Pemerintah Kota Surabaya ataupun Unair. Karena itu, FDTS memilih mengambil inisiatif sendiri. Pada Rabu, 24 Juni 2026, anggota FDTS mulai mengerjakan rangka, kursi, dan pengecatan di Tegalsari, di rumah salah satu anggota mereka. Halte yang dilengkapi bangku kayu berwarna merah muda atau kerap disebut halte pink itu, kemudian dibawa menggunakan mobil dan dipasang di TPB Unair B pada Rabu, 1 Juli 2026.

Sebagai penanda, FDTS menempelkan stiker pada halte tersebut. Stiker itu menyebut halte pink sebagai bantuan warga karena halte yang sebelumnya dijanjikan pemerintah tak kunjung datang.

Kami menunggu hampir dua bulan. Karena tidak ada pergerakan fisik selain survei biasa, akhirnya kami berinisiatif merakit sendiri tempat duduk atau halte pink di rumah, lalu membawanya ke lokasi menggunakan mobil. Sekitar dua minggu setelah aksi pengerjaan mandiri tersebut viral dan menjadi sorotan, barulah pemerintah kota turun tangan,” ujar Vesa, pada Senin, 28 September 2026.

Menurut Vesa, aksi tersebut bukan yang pertama dilakukan FDTS. Mereka akan terus melakukan aksi serupa di titik lain selama masih terdapat halte yang tidak layak dan membuat warga harus menunggu dalam waktu lama tanpa fasilitas memadai. Karena itu, halte pink akan terus mereka buat dan pasang sampai semua tempat pemberhentian transum memiliki fasilitas yang manusiawi.

Bagi FDTS, persoalan halte tidak sekadar berkaitan dengan bangunan fisik, tetapi juga menyangkut standar pelayanan dasar bagi penumpang. Vesa mengatakan halte setidaknya harus memiliki atap yang mampu melindungi penumpang dari panas dan hujan, kursi tunggu, penerangan, serta papan informasi rute.

Salah satu titik pemberhentian bus di Jalan Ir Soekarno yang berdiri tepat di dalam taman. Pengguna transum tak memiliki lokasi yang aman untuk menunggu transum mereka yang datang tak tentu waktunya. Di lokasi ini, titik menunggu transum, tepat berada di pinggir badan jalan. Selain tak nyaman, tentu lokasi ini tak aman bagi keselamatan. (Miftah Faridl/Project Arek)
Dua pengguna transum di Jalan Ir Soekarno duduk di pembatas jalan tepat di bawah rambu pemberhentian bus. Ketiadaan fasilitas tunggu seperti kursi dan peneduh yang nyaman dan aman, membuat pengguna transum harus mempertaruhkan keselamatannya. (Miftah Faridl/Project Arek)

Keberadaan kursi, kata dia, menjadi penting karena waktu tunggu bus atau headway di Surabaya masih relatif panjang. Selain fasilitas dasar tersebut, aksesibilitas bagi penyandang disabilitas juga perlu menjadi bagian dari desain halte. Fasilitas aksesibilitas itu dapat berupa papan informasi dengan huruf Braille dan tombol navigasi berbantuan audio.

Halte pink di Unair B merupakan aksi kedua FDTS. Sebelumnya, pada September 2024, mereka melakukan aksi serupa di halte Pakuwon Trade Center (PTC), Wiyung. Saat itu, pengguna bus, termasuk kelompok lansia, kerap tidak memiliki tempat duduk sehingga harus beristirahat di taman atau rerumputan di sekitar halte. Mereka bahkan disebut pernah diusir petugas keamanan karena menggunakan area tersebut untuk duduk.

BACA JUGA : Duuh! Nelongso'e Pengguna Transum Suroboyo

Merespons kondisi itu, FDTS menempatkan halte pink di PTC. Namun, kursi tersebut diduga disita Satpol PP Dukuh Kupang kurang dari 4 jam setelah dipasang. Penertiban itu kemudian memicu kritik dari warganet di media sosial. Setelah mendapat sorotan, pengelola PTC menyediakan kursi besi sementara hingga Pemkot Surabaya membangun halte permanen yang rampung pada Agustus 2025.

Lingkaran Setan Transportasi Publik di Surabaya

Di sisi lain, Vesa menilai kebijakan transportasi juga harus mengubah ketergantungan pada pelebaran jalan untuk mengatasi pertumbuhan kendaraan pribadi. Menurut dia, penambahan kapasitas jalan dapat memunculkan induced demand, yakni kondisi ketika kapasitas jalan yang bertambah justru mendorong lebih banyak orang menggunakan kendaraan pribadi.

“Pola pikir memperlebar jalan terus-menerus itu ibarat penanganan pada orang yang mengalami obesitas. Bukannya mengobati penyebab kegemukannya, tetapi malah pakaiannya yang diperbesar atau sabuknya yang dikendurkan. Akibatnya, jumlah kendaraan pribadi akan terus bertambah pesat menempati ruang jalan yang baru, hingga akhirnya lahan perkotaan habis hanya untuk jalan raya dan kemacetan tetap tidak terhindarkan,” jelas Vesa.

Persoalan tersebut, menurut Vesa, juga berkaitan dengan tata ruang dan ketersediaan hunian. Tingginya harga rumah tapak di pusat kota membuat sebagian masyarakat berpenghasilan UMR memilih tinggal di kawasan pinggiran seperti Lakarsantri, Benowo, dan Pakal, termasuk wilayah penyangga di Gresik dan Sidoarjo.

Jumlah armada Suroboyo Bus masih jauh dari kata cukup apalagi cukup untuk melayani mobilitas kebutuhan warga kota ini. Tak heran, populasi kendaraan pribadi mencapai jutaan unit di Surabaya. Warga kota mencari jalan keluar sendiri-sendiri untuk masalah yang mereka hadapi. Sebab, pembanguan transportasi publik di Surabaya masih dinilai setengah hati. (Robertus Risky/Project Arek)

 

Namun, kawasan tersebut belum seluruhnya terjangkau layanan angkutan umum, terutama pada perjalanan first mile dan last mile. First mile, yaitu perjalanan dari tempat asal menuju titik transit transportasi massal. Sedangkan last mile, yaitu perjalanan dari titik transit transportasi massal menuju tempat tujuan. Bahkan di kawasan tengah kota seperti Tegalsari, warga masih harus berjalan sekitar 800 meter hingga 1 kilometer untuk mencapai halte terdekat. Kondisi ini dapat mendorong warga memilih sepeda motor atau mobil pribadi untuk menunjang mobilitas sehari-hari.

Karena itu, Vesa menilai kebijakan transportasi harus berjalan beriringan dengan penataan ruang dan hunian. Salah satu langkah yang ia dorong adalah penyediaan hunian vertikal terjangkau di pusat kota yang terintegrasi dengan simpul transportasi publik melalui konsep Transit Oriented Development (TOD).

BACA JUGA : Transum Buruk, Krisis Iklim Memburuk

Selain itu, ia mengingatkan adanya potensi suppressed demand, yakni kelompok masyarakat yang sebenarnya memiliki keinginan menggunakan transportasi umum tetapi belum beralih karena layanan yang tersedia belum memenuhi kebutuhan mereka. Faktor seperti waktu tempuh, kepastian jadwal, dan kapasitas bus yang terbatas dapat membuat masyarakat tetap memilih kendaraan pribadi.

“Sudah waktunya kota sebesar Surabaya, yang merupakan kota terbesar kedua di Indonesia sekaligus salah satu gerbang utama menuju Indonesia Timur selain Makassar, memiliki transportasi umum yang benar-benar dapat diandalkan dan menjangkau seluruh wilayah,” pungkas Vesa.